mengapa harus ada jawaban abu-abu atas sebuah pertanyaan
mengapa tidak dijawab YA atau TIDAK
mengapa jawaban itu hanya diam
bila kita tak suka, mengapa tidak katakan TIDAK
bila kita setuju, harusnya diisi jawaban YA
senyap hanya akan menambah persoalan
membuat keraguan dan bermacam dugaan
memantik untaian pertanyaan baru
cobalah kita belajar untuk mengatakan yang sesungguhnya
berusaha mengungkap kebenaran tanpa menyakiti perasaan
yogya, 7 Agustus 2006
ketika jarum pendek menunjuk angka 10
dan jarum panjang menunjuk angka 1
diiringi suara jangkrik
disinari kelap-kelip kunang-kunang
:: MSW ::
Monday, August 07, 2006
Friday, August 04, 2006
yakin itu
telah kutetapkan bahwa ini adalah arahku
bila ada yang tak setuju
jangan kau beri pikiran baru
biarkanlah
karena memang itu kan jadi bebanku
saat aku tak bertemu
apa yang ada di ujung arah itu
aku tak kan ragu, sekali lagi
tak kan ragu!
untuk menuju arahku
tanpa membuat kelok baru
yogya, 4 agustus 2006
16:04
MSW
bila ada yang tak setuju
jangan kau beri pikiran baru
biarkanlah
karena memang itu kan jadi bebanku
saat aku tak bertemu
apa yang ada di ujung arah itu
aku tak kan ragu, sekali lagi
tak kan ragu!
untuk menuju arahku
tanpa membuat kelok baru
yogya, 4 agustus 2006
16:04
MSW
Wednesday, August 02, 2006
oh alida
alida.....
aku merindumu seperti pasir pantai menunggu ombak
bila kau hembuskan derai manja di huruf-huruf pesanmu
sesaat jiwa membuncah, membiru bagai langit tanpa awan
alida....
sudilah menungguiku sejenak
untuk bertemu di kawat-kawat berpilin
yang membuat jarak seperti kertas tipis
alida....
mengapa selalu kau tinggalkan aku
saat aku ingin mengenangmu
untuk berbincang sejenak tentang langit, batu, gunung, dan ilalang
alida....
alida....
kapan lagi kita bertemu?
MSW
yogya, 2 Agustus 2006
19:42
sajak kerinduan seorang sahabat
aku merindumu seperti pasir pantai menunggu ombak
bila kau hembuskan derai manja di huruf-huruf pesanmu
sesaat jiwa membuncah, membiru bagai langit tanpa awan
alida....
sudilah menungguiku sejenak
untuk bertemu di kawat-kawat berpilin
yang membuat jarak seperti kertas tipis
alida....
mengapa selalu kau tinggalkan aku
saat aku ingin mengenangmu
untuk berbincang sejenak tentang langit, batu, gunung, dan ilalang
alida....
alida....
kapan lagi kita bertemu?
MSW
yogya, 2 Agustus 2006
19:42
sajak kerinduan seorang sahabat
Tuesday, August 01, 2006
agar menjadi
tahukan kau, mengapa aku selalu ingin tahu
tentang semua sisi gelapmu
agar bisa kuingatkan tentang batas tabiat
yang terkadang meregang antara nyata dan maya
tahukah kau, mengapa aku jadikan kau musuh
agar tak ada secuil ragu dan bias prasangka
saat kita nanti menjadi teman abadi
tahukah kau, mengapa aku selalu merindumu
agar kita bisa bertemu, berbincang tentang alam, batu, hutan, awan, dan ilalang
agar kita bisa menjadi manusia baru
sempurna sepenuhnya dari lara dan nestapa
sajak buat sahabat
yogya, 1 Agustus 2006
tentang semua sisi gelapmu
agar bisa kuingatkan tentang batas tabiat
yang terkadang meregang antara nyata dan maya
tahukah kau, mengapa aku jadikan kau musuh
agar tak ada secuil ragu dan bias prasangka
saat kita nanti menjadi teman abadi
tahukah kau, mengapa aku selalu merindumu
agar kita bisa bertemu, berbincang tentang alam, batu, hutan, awan, dan ilalang
agar kita bisa menjadi manusia baru
sempurna sepenuhnya dari lara dan nestapa
sajak buat sahabat
yogya, 1 Agustus 2006
Monday, March 20, 2006
sudut indah mata
mungkinkah matamu yang indah
sedang memerangkapku
menjebak dengan tatapan menggoda
seakan ingin menyerahkan semua
sedang memerangkapku
menjebak dengan tatapan menggoda
seakan ingin menyerahkan semua
Monday, February 20, 2006
opposite Siti Nurbaya
biarkan aku ceritakan pada kalian tentang kisah sedih sejoli, yang tiba-tiba berdiri tembok kokoh diantara keduanya
Ari gadis manis berkerudung, yang baru lulus sebuah perguruan tinggi. Adalah adik satu tingkat Ari yang bernama Irwan, naksir padanya. Singkat cerita keduanya jadi pasangan. Meski masih kuliah, Irwan selalu setia, mengantar Ari ke mana hendak pergi. Cari kerja, mengikuti tes wawancara, sampai akhirnya Ari dapat kerja, Irwan tetap menjadi sopir pribadi bagi Ari. Saat Ari dapat pekerjaan di kota lain yang jaraknya 200 km, Irwan tetap berjuang antar jemput kekasihnya itu setiap akhir pekan.
Janji pun terucap, Irwan ingin segera lulus, bekerja dan mempersunting Ari, gadis pujaaannya. Karena memang tergolong cerdas, IP Kumulatif Irwan pada semester terakhirnya 3,98, tak sulit untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah, dan mendaftar ujian skripsi. Diantara teman seangkatannya, Irwan memang yang pertama kali yang akan menempuh ujian skripsi.
Satu hari, malam sebelum Irwan mengikuti ujian skripsi, datanglah ia ke rumah Ari. Di sana ternyata sudah menunggu ayah sang kekasih. Bincang-bincang antara calon menantu dan calon mertua itu banyak membahas soal keduanya.
Sampailah pembicaraan mengenai rencana pasangan itu. Dan berkatalah sang calon mertua. "Dalam perhitungan Jawa, anak nomor tiga dan nomor satu tak baik untuk berumah tangga,"katanya. Memang Ari adalah anak pertama, sedang Irwan anak ke tiga. Dalam perhitungan Jawa yang diyakini sang calon mertua, keduanya bakalan tak bisa bersatu. Pamali. Tabu untuk bersanding. Mungkin bila keduanya dipersatukan, hitungannya jadi angka 13, angka sial.
Tentunya, dengan segudang alasan, Irwan menolak argumen itu. "Dalam agama kita, tak ada pantangan semacam itu,"bantahnya.
Orang tua Ari, sang ayah, tetap bersikukuh. "Ari adalah anakku, yang kupelihara sejak lahir. Tapi bila kalian tetap ingin melanjutkan hubungan ini, sampai kapanpun aku takkan merestuinya."
Bagai disengat aliran listrik 220 volt, Irwan pun menentukan sikap. Tak ingin ganjalan hati orang tua menjadi bencana di kemudian hari, dia pun bersedia memenuhi keinginan ayah Ari. Rela berpisah dengannya malam itu juga. "Baiklah, semoga keputusan ini membawa kebahagian bagi dik Ari. Aku lebih baik berpisah dengannya, dari pada ia sengsara bersamaku nanti,"begitu ucapan tersendat Irwan kala itu.
Dengan diiringi rintihan kepedihan hati sang kekasih, dan derai airmata ibu, serta dua adik Ari, Irwan pamit.
Dalam hati Irwan hanya ada satu tujuan, besok adalah hari besarnya. Langkahnya ditentukan esok pagi, dihadapan para dosen penguji.
Ari baginya sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Hasilnya Irwan memperoleh cumlaude, atas indeks prestasinya selama kuliah.
Sungguh satu ironi, seorang anak dengan kepandaian dan potensi seperti ini harus tersingkir dari belahan hatinya oleh satu kepercayaan kuno, yang tak pernah dia dapatkan selama bersekolah.
nah, sebuah cerita yang 99% fakta
nama-nama yang dipakai tentu saja kalian pikir sendiri kebenarannya.
jadi apa komentar kalian?
Ari gadis manis berkerudung, yang baru lulus sebuah perguruan tinggi. Adalah adik satu tingkat Ari yang bernama Irwan, naksir padanya. Singkat cerita keduanya jadi pasangan. Meski masih kuliah, Irwan selalu setia, mengantar Ari ke mana hendak pergi. Cari kerja, mengikuti tes wawancara, sampai akhirnya Ari dapat kerja, Irwan tetap menjadi sopir pribadi bagi Ari. Saat Ari dapat pekerjaan di kota lain yang jaraknya 200 km, Irwan tetap berjuang antar jemput kekasihnya itu setiap akhir pekan.
Janji pun terucap, Irwan ingin segera lulus, bekerja dan mempersunting Ari, gadis pujaaannya. Karena memang tergolong cerdas, IP Kumulatif Irwan pada semester terakhirnya 3,98, tak sulit untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah, dan mendaftar ujian skripsi. Diantara teman seangkatannya, Irwan memang yang pertama kali yang akan menempuh ujian skripsi.
Satu hari, malam sebelum Irwan mengikuti ujian skripsi, datanglah ia ke rumah Ari. Di sana ternyata sudah menunggu ayah sang kekasih. Bincang-bincang antara calon menantu dan calon mertua itu banyak membahas soal keduanya.
Sampailah pembicaraan mengenai rencana pasangan itu. Dan berkatalah sang calon mertua. "Dalam perhitungan Jawa, anak nomor tiga dan nomor satu tak baik untuk berumah tangga,"katanya. Memang Ari adalah anak pertama, sedang Irwan anak ke tiga. Dalam perhitungan Jawa yang diyakini sang calon mertua, keduanya bakalan tak bisa bersatu. Pamali. Tabu untuk bersanding. Mungkin bila keduanya dipersatukan, hitungannya jadi angka 13, angka sial.
Tentunya, dengan segudang alasan, Irwan menolak argumen itu. "Dalam agama kita, tak ada pantangan semacam itu,"bantahnya.
Orang tua Ari, sang ayah, tetap bersikukuh. "Ari adalah anakku, yang kupelihara sejak lahir. Tapi bila kalian tetap ingin melanjutkan hubungan ini, sampai kapanpun aku takkan merestuinya."
Bagai disengat aliran listrik 220 volt, Irwan pun menentukan sikap. Tak ingin ganjalan hati orang tua menjadi bencana di kemudian hari, dia pun bersedia memenuhi keinginan ayah Ari. Rela berpisah dengannya malam itu juga. "Baiklah, semoga keputusan ini membawa kebahagian bagi dik Ari. Aku lebih baik berpisah dengannya, dari pada ia sengsara bersamaku nanti,"begitu ucapan tersendat Irwan kala itu.
Dengan diiringi rintihan kepedihan hati sang kekasih, dan derai airmata ibu, serta dua adik Ari, Irwan pamit.
Dalam hati Irwan hanya ada satu tujuan, besok adalah hari besarnya. Langkahnya ditentukan esok pagi, dihadapan para dosen penguji.
Ari baginya sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Hasilnya Irwan memperoleh cumlaude, atas indeks prestasinya selama kuliah.
Sungguh satu ironi, seorang anak dengan kepandaian dan potensi seperti ini harus tersingkir dari belahan hatinya oleh satu kepercayaan kuno, yang tak pernah dia dapatkan selama bersekolah.
nah, sebuah cerita yang 99% fakta
nama-nama yang dipakai tentu saja kalian pikir sendiri kebenarannya.
jadi apa komentar kalian?
Thursday, February 16, 2006
sebulan lalu
wah dah satu bulan pas, aku nggak nulis di blog ini.
sebenarnya pengin sering2 nulis, tapi nggak sempat dan males lagi, he..he..
ini ada sebuah sajak
judulnya : makam puncak bukit
sebuah makam besar
di pucuk bukit kelam
memantulkan kenangan kebesaran
tentang kejayaan
tentang kemuliaan
letaknya
di atas punggung berkeringat
petani-petani yang tertimbun gabah mandul
akibat harga pupuk yang tak mau mendarat
karena alat navigasinya rusak
diserang beras impor negeri tetangga
kerabatnya
kini tiarap
ada yang dipenjara
ada yang kata dokter sakit
ada pula yang selingkuh dengan artis
makam besar di ujung bukit
isimu nanti
jasad raja dari abad lalu
yang terlupa karena roda
tlah menggelinding menggilas jasa
sebenarnya pengin sering2 nulis, tapi nggak sempat dan males lagi, he..he..
ini ada sebuah sajak
judulnya : makam puncak bukit
sebuah makam besar
di pucuk bukit kelam
memantulkan kenangan kebesaran
tentang kejayaan
tentang kemuliaan
letaknya
di atas punggung berkeringat
petani-petani yang tertimbun gabah mandul
akibat harga pupuk yang tak mau mendarat
karena alat navigasinya rusak
diserang beras impor negeri tetangga
kerabatnya
kini tiarap
ada yang dipenjara
ada yang kata dokter sakit
ada pula yang selingkuh dengan artis
makam besar di ujung bukit
isimu nanti
jasad raja dari abad lalu
yang terlupa karena roda
tlah menggelinding menggilas jasa
Tuesday, January 17, 2006
iseng
bayangkan bila Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh orang yang iseng.
atau bali diledakkan hanya karena ada teroris iseng.
caba pikir juga, bila ada wanita yang diperkosa karena ada lelaki iseng.
mahasiswa ditembak karena ada tentara iseng.
lalu bagaimana kira2, kalau Tuhan membuat dunia hanya karena iseng saja,
waaaaah, mungkin saja Adam dan Hawa turun ke bumi juga karena keisengan Tuhan.
Yang jelas, kalau kita menjadi obyek keisengan, pastilah nggak akan enak rasa,
pengen muntah, mencaci, mengumpat, atau malah memukuli orang yang berbuat iseng pada kita.
akibat keisengan memang bisa berbagai macam, dari sakit hati, menangis, hingga bunuh diri, bahkan dunia bisa kiamat kalau saja ada ilmuwan menciptakan reaksi berantai dari uranium yang bisa membelah bumi karena sedang patah hati misalnya.
ya tentunya dunia jadi berwarna, penuh dengan warna iseng yang hitam, kuning, merah, hijau, abu-abu, dan jingga
atau bisa saja ada orang yang hanya tertawa, melihat teman2nya terlibat keisengan satu sama lain
iseng dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti berbuat atau mengerjakan sesuatu supaya jangan menganggur, sekedar main-main, tidak bersungguh-sungguh
jadi kalau anda jadi obyek keisengan, ya jangan di masukkan ke hati, tapi anggap itu hanya lelucon yang tak lucu yang dilakukan oleh orang yang tak punya keberanian, karena tak bersungguh-sungguh dalam berbuat.
--end
esai untuk teman yang diisengi teman lain
atau bali diledakkan hanya karena ada teroris iseng.
caba pikir juga, bila ada wanita yang diperkosa karena ada lelaki iseng.
mahasiswa ditembak karena ada tentara iseng.
lalu bagaimana kira2, kalau Tuhan membuat dunia hanya karena iseng saja,
waaaaah, mungkin saja Adam dan Hawa turun ke bumi juga karena keisengan Tuhan.
Yang jelas, kalau kita menjadi obyek keisengan, pastilah nggak akan enak rasa,
pengen muntah, mencaci, mengumpat, atau malah memukuli orang yang berbuat iseng pada kita.
akibat keisengan memang bisa berbagai macam, dari sakit hati, menangis, hingga bunuh diri, bahkan dunia bisa kiamat kalau saja ada ilmuwan menciptakan reaksi berantai dari uranium yang bisa membelah bumi karena sedang patah hati misalnya.
ya tentunya dunia jadi berwarna, penuh dengan warna iseng yang hitam, kuning, merah, hijau, abu-abu, dan jingga
atau bisa saja ada orang yang hanya tertawa, melihat teman2nya terlibat keisengan satu sama lain
iseng dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti berbuat atau mengerjakan sesuatu supaya jangan menganggur, sekedar main-main, tidak bersungguh-sungguh
jadi kalau anda jadi obyek keisengan, ya jangan di masukkan ke hati, tapi anggap itu hanya lelucon yang tak lucu yang dilakukan oleh orang yang tak punya keberanian, karena tak bersungguh-sungguh dalam berbuat.
--end
esai untuk teman yang diisengi teman lain
Friday, January 06, 2006
pusaran nasib
berapa gaji kamu, berapa gajiku
aku tak punya gaji!!!
Pendapatan DPR katanya hampir 15 juta per bulan. Gaji dewan gubernur Bank Indonesia di atas 150 jutaan per bulan. Gaji Presiden dan wakilnya sekitar 50 juta hingga 60 juta.
Fantastis memang. Bila dibanding dengan pendapatan petani, buruh kasar, apalagi para penganggur yang berserakan di seantero negeri yang jumlahnya hampir 15 % dari angkatan kerja. Paling-paling pendapatan para proletar itu nggak nyampe 1 juta perbulan.
Coba lihat para penerima gaji gede itu, mereka rata-rata hidup di ibu kota. Belum lagi para eksekutif perusahaan top. Putaran pendapatan tinggi tentunya hanya bisa ditemukan di pusat negeri.
Nah, pastinya mereka membelanjakan uangnya juga di ibukota. Jadi tak aneh, kalau banyak warga negeri yang berbondong-bondong pergi ke sana, sekedar untuk mendapat ludahan gaji para eksekutif itu.
Lalu dari mana DPR, boss BI, Presiden dan wakilnya dapat gaji? Ya dari negara, tapi negara dari mana uangnya? Ya dari rakyat. Rakyat yang mana? rakyat yang ada di desa-desa, yang pendapatannya nggak sampai sejuta tentunya.
Oooo, sebuah ironi, rakyat di desa kerja keras buat para pemimpinnya. Sementara pemimpin dapat kesejahteraan, tetap saja para buruh, petani, dan penganggur bersahabat dengan kemelaratan.
Ketika para pemimpin naik kendaraan mengilap menuju acara gala dinner, yang makanannya ala manca, rakyat negeri ini tidur lelap dengan perut keroncongan. Lalu tiba-tiba tanah roboh menimpa rumah mereka yang terbuat dari bambu. Binasalah mereka!!!
Uhhh, sebuah lawakan yang selalu berulang. Entah kapan akan berhenti.
Jadi apa yang diperlukan negeri ini, sebuah pemerataan? dari mana mulainnya. Semuanya sudah berebut, semuanya seperti singa dan serigala. Hukum rimba pun dipaksakan. Siapa kaya, siapa punya kenalan dengan pemegang sumber daya kekuasaan, dialah pemenangnya.
Hmmmm, jadilah yang lemah menjadi sirna di pusat pusaran nasib. Yang deras tanpa ampun melalap siapa saja yang tak punya pengait, untuk mempertahankan badan dari tarikan nasib buruk yang mematikan.
Jadi mau ke mana kita sekarang?
aku tak punya gaji!!!
Pendapatan DPR katanya hampir 15 juta per bulan. Gaji dewan gubernur Bank Indonesia di atas 150 jutaan per bulan. Gaji Presiden dan wakilnya sekitar 50 juta hingga 60 juta.
Fantastis memang. Bila dibanding dengan pendapatan petani, buruh kasar, apalagi para penganggur yang berserakan di seantero negeri yang jumlahnya hampir 15 % dari angkatan kerja. Paling-paling pendapatan para proletar itu nggak nyampe 1 juta perbulan.
Coba lihat para penerima gaji gede itu, mereka rata-rata hidup di ibu kota. Belum lagi para eksekutif perusahaan top. Putaran pendapatan tinggi tentunya hanya bisa ditemukan di pusat negeri.
Nah, pastinya mereka membelanjakan uangnya juga di ibukota. Jadi tak aneh, kalau banyak warga negeri yang berbondong-bondong pergi ke sana, sekedar untuk mendapat ludahan gaji para eksekutif itu.
Lalu dari mana DPR, boss BI, Presiden dan wakilnya dapat gaji? Ya dari negara, tapi negara dari mana uangnya? Ya dari rakyat. Rakyat yang mana? rakyat yang ada di desa-desa, yang pendapatannya nggak sampai sejuta tentunya.
Oooo, sebuah ironi, rakyat di desa kerja keras buat para pemimpinnya. Sementara pemimpin dapat kesejahteraan, tetap saja para buruh, petani, dan penganggur bersahabat dengan kemelaratan.
Ketika para pemimpin naik kendaraan mengilap menuju acara gala dinner, yang makanannya ala manca, rakyat negeri ini tidur lelap dengan perut keroncongan. Lalu tiba-tiba tanah roboh menimpa rumah mereka yang terbuat dari bambu. Binasalah mereka!!!
Uhhh, sebuah lawakan yang selalu berulang. Entah kapan akan berhenti.
Jadi apa yang diperlukan negeri ini, sebuah pemerataan? dari mana mulainnya. Semuanya sudah berebut, semuanya seperti singa dan serigala. Hukum rimba pun dipaksakan. Siapa kaya, siapa punya kenalan dengan pemegang sumber daya kekuasaan, dialah pemenangnya.
Hmmmm, jadilah yang lemah menjadi sirna di pusat pusaran nasib. Yang deras tanpa ampun melalap siapa saja yang tak punya pengait, untuk mempertahankan badan dari tarikan nasib buruk yang mematikan.
Jadi mau ke mana kita sekarang?
Tuesday, January 03, 2006
kembali
menginjak ke titik awal lagi
dimana semangat, harapan, dan usaha
diperbaharui
hidup mesti diputar kembali
lebih kencang
lebih deras
lebih dasyat
tentunya
ada wajah lain yang juga perlu diperbarui
bagian hati
hubungan dengan illahi
perlu dipertebal
aksi dan do'a
dua teman yang harus diakrabi
dimana semangat, harapan, dan usaha
diperbaharui
hidup mesti diputar kembali
lebih kencang
lebih deras
lebih dasyat
tentunya
ada wajah lain yang juga perlu diperbarui
bagian hati
hubungan dengan illahi
perlu dipertebal
aksi dan do'a
dua teman yang harus diakrabi
Sunday, January 01, 2006
mawar surga
'taburi aku dengan mawar surga'
begitu pesanmmu
sebelum kau pergi bersama Isroil
kini hampir tak tersisa lagi bayang
atas semua kenangan
saat kau ada
namun roh mu tetap kami sisihkan
dalam sudut hati
di sisa-sisa hari
tak lupa kami ukir pesan terakhir itu
di batu nisanmu
sebagai pengingat
agar kami selalu mengirimmu
untaian mawar surga
dari do'a
yang terpanjat
semoga mawar surga
selalu menjadi pembimbing
kami dan dirimu
-----
mengenang dear sister tercinta
1 januari 2003 - 1 januari 2006
begitu pesanmmu
sebelum kau pergi bersama Isroil
kini hampir tak tersisa lagi bayang
atas semua kenangan
saat kau ada
namun roh mu tetap kami sisihkan
dalam sudut hati
di sisa-sisa hari
tak lupa kami ukir pesan terakhir itu
di batu nisanmu
sebagai pengingat
agar kami selalu mengirimmu
untaian mawar surga
dari do'a
yang terpanjat
semoga mawar surga
selalu menjadi pembimbing
kami dan dirimu
-----
mengenang dear sister tercinta
1 januari 2003 - 1 januari 2006
Friday, December 30, 2005
ini hari jum'at
hari ini hanya nongkrong saja yang kulakukan
di bawah cemara, samping polres solo
bersama teman2 sesama wartawan
hisap rokok, minum teh anget
ngobrol-ngobrol
ini hari jum'at
setelah sholat jum,at
hujan datang
dingin...brrrr
sempat juga jenguk salah satu
teman wartawan yang mondok di rumah sakit
karena kecelakaan saat tugas
anah, tentunya acara favorit di sore hari
adalah chat
bersama sang dewi
he...he..he..he....
tak ada nikmat yang mengalahkannya
tentunya untuk saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti
entah.....
di bawah cemara, samping polres solo
bersama teman2 sesama wartawan
hisap rokok, minum teh anget
ngobrol-ngobrol
ini hari jum'at
setelah sholat jum,at
hujan datang
dingin...brrrr
sempat juga jenguk salah satu
teman wartawan yang mondok di rumah sakit
karena kecelakaan saat tugas
anah, tentunya acara favorit di sore hari
adalah chat
bersama sang dewi
he...he..he..he....
tak ada nikmat yang mengalahkannya
tentunya untuk saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti
entah.....
Wednesday, December 28, 2005
cinta maya
saat kau hampirkan api biru
nadiku pun berdesir
seperti kali saat banjir
namun ketika kau berhenti menyurukkan api
pada ujung hati
asaku meresap, seperti asap dihirup hawa
dek, kau buai aku dalam ayunan maya
melewati kawat tipis, sejuta pilin
waktu kau tak lagi menyapa
aku hilang rasa
menjadi hampa tanpa tawa
sajak untuk dewiy
ketika dia tak on line
nadiku pun berdesir
seperti kali saat banjir
namun ketika kau berhenti menyurukkan api
pada ujung hati
asaku meresap, seperti asap dihirup hawa
dek, kau buai aku dalam ayunan maya
melewati kawat tipis, sejuta pilin
waktu kau tak lagi menyapa
aku hilang rasa
menjadi hampa tanpa tawa
sajak untuk dewiy
ketika dia tak on line
Monday, December 26, 2005
kerinduan air di daun talas
duh...
aku sebenarnya rindu
padamu ya ketidakpastian
namun apa daya, dunia yang penuh mimpi
memperdayaku
membuai dalam selendang kesenangan
menjadikan diri patung mewah romawi
tak bernyali
ragu aku, ya ketidakpastian
apakah bila nanti bertemu engkau
ku kan menyambutmu
bergurau bersamamu
mengenang kesedihan yang kau lilitkan
berbangga dengan keberhasilan
saat menipumu
namun dalam hati masih saja kuimpikan kau
menghajar nuraniku, melelahkan syaraf egoisme
menendang niatan purba
ya ketidakpastian
datanglah, saat aku tak silau oleh dunia
ketika kaki tak kotor oleh lumpur germerlap api neraka
namun kapan itu, aku tak juga tahu, dunia memang lebih kuat
aku perlu bantuan
dari siapa?
aku belum tahu.
aku sebenarnya rindu
padamu ya ketidakpastian
namun apa daya, dunia yang penuh mimpi
memperdayaku
membuai dalam selendang kesenangan
menjadikan diri patung mewah romawi
tak bernyali
ragu aku, ya ketidakpastian
apakah bila nanti bertemu engkau
ku kan menyambutmu
bergurau bersamamu
mengenang kesedihan yang kau lilitkan
berbangga dengan keberhasilan
saat menipumu
namun dalam hati masih saja kuimpikan kau
menghajar nuraniku, melelahkan syaraf egoisme
menendang niatan purba
ya ketidakpastian
datanglah, saat aku tak silau oleh dunia
ketika kaki tak kotor oleh lumpur germerlap api neraka
namun kapan itu, aku tak juga tahu, dunia memang lebih kuat
aku perlu bantuan
dari siapa?
aku belum tahu.
Tuesday, September 27, 2005
sekoci?
kapal ini mulai goyah
terombang-ambing ombak mengamuk
sang nahkoda tak jelas suaranya
sedang para kelasi, masih bekerja
namun tak ada keselarasan
semakin lama percik ombak mulai masuk anjungan
aku hanya tukang cuci dinding kapal di situ
tugasku memoles dinding kapal agar tak kusam dimakan karat
di air asin, dinding kapal yang terbuat dari baja pun akan terkapar
berkarat, mengelupas, keluar kotoran kuning yang keropos
namun ku ikhlas dengan tugasku,
kapal pun mulai oleng
pendapat nahkoda tak membuat haluan bergerak tenang
semakin ombak mengacau, bertambah pula kegalauan kelasi
mereka menjadi sibuk namun tanpa harmoni
bilakah kapal karam?
terlintas dalam benakku 'tuk mencari sekoci
sebuah perahu kecil, sebagai penyelamat
meski aku tahu, pergi bersama sekoci dan tinggal di kapal ada sebuah resiko
namun pilihan harus diputus
apakah itu sekarang atau nanti
tetap saja kehidupan adalah tak tentu
dan bersama SESUATU yang lebih dari samudera luas
aku masih yakin akan ku dapati arah ku
terombang-ambing ombak mengamuk
sang nahkoda tak jelas suaranya
sedang para kelasi, masih bekerja
namun tak ada keselarasan
semakin lama percik ombak mulai masuk anjungan
aku hanya tukang cuci dinding kapal di situ
tugasku memoles dinding kapal agar tak kusam dimakan karat
di air asin, dinding kapal yang terbuat dari baja pun akan terkapar
berkarat, mengelupas, keluar kotoran kuning yang keropos
namun ku ikhlas dengan tugasku,
kapal pun mulai oleng
pendapat nahkoda tak membuat haluan bergerak tenang
semakin ombak mengacau, bertambah pula kegalauan kelasi
mereka menjadi sibuk namun tanpa harmoni
bilakah kapal karam?
terlintas dalam benakku 'tuk mencari sekoci
sebuah perahu kecil, sebagai penyelamat
meski aku tahu, pergi bersama sekoci dan tinggal di kapal ada sebuah resiko
namun pilihan harus diputus
apakah itu sekarang atau nanti
tetap saja kehidupan adalah tak tentu
dan bersama SESUATU yang lebih dari samudera luas
aku masih yakin akan ku dapati arah ku
Saturday, September 24, 2005
waduuuh!!!
sudah hampir seminggu aku tak bersosialisasi.
bertemu teman dan sanak saudara.
rasanya hampa, sepi, dan merana.
namun tugas harus di jalankan.
mencari terang di bawah kegelisahan
di pihak lain, ada letih di hati dan di kaki.
sementara pikiran kalut, ada yang memaki - -asap rokok itu... hentikan!!!- -
kata si jantung dan paru ku
ah, ku jawab saja belum ada pihak yang melarang kok
jawaban jantung ku : goblog kamu! hentikan dulu, baru cari orang yang mau melarang, lebih gampang
paru ku menambah : sudah, sudah, kau tak kan dapati orang yang bisa melarang, jika gaya hidup mu seperti tak punya jantung dan paru
tapi ini memang gayaku, orang yang bisa melarangku juga harus menerima apa yang di dapati dalam tubuh ku dan jiwa ku, tegas diriku
dalam sekejap aku bingung, bertanya, siapa diriku??
apakah itu, otak yang tak lain adalah pikiran kotor ku,
atau hati, yang kadang tak hati-hati karena tak sanggup berterima kasih ketika diberi hati
atau jantung, paru, usus, lambung, bahkan kelamin ku
mungkin juga rambut ku, yang awut-awutan seperti tak ingin diatur
atau mata ku, yang senang pada sesuatu dibalik sesuatu
atau kuping ku yang kesakitan oleh jemari ku yang menggaruknya, karena ada info kotor membuat gatal
ada kemungkinan juga, kulit yang menjadi diriku. bagian ini merasa sensitif bila bertemu dengan kulit jenis lain
dan siapa jiwaku??
sebuah sisi yang katanya tak terlihat tapi ada,
mungkinkah jiwa berselingkuh dengan diri?
atau jalan sendiri (berjalan di atas rel masing2, ini kuingat dari sebuah puisi karya diri lain)
jiwaku.. apakah kau zat yang berbeda dengan diriku?
apakah kau mendalangi diriku
atau kau memang satu seirama dengan diriku
namun aku takut bila jiwaku, kau sudah bukan jiwa yang tercipta bersamaan dengan diriku
aku curiga, kau tercampur dengan senyawa lain yang negatif
dan lalu siapa aku apakah itu =
diriku+jiwaku+senyawa negatif
nah, dimanakah akan ditemukan senyawa yang positif (kata para ahli, jika ada negatif maka pasti ada positif)
otakku berkata : senyawa positif ya otak
hatiku mengumumkan : ooo, tidak, hatilah senyawa positif itu
jadi mana yang benar?
waduuuh... tak ku temukan ke-aku-an
tiba-tiba angin di belakang berbisik ke telinga ku
"ayo kita cari orang yang bisa melarang mu berhenti merokok"
aku tadi lupa, nyebutin si tulang dan mulut beserta para warganya, ya tambahin sendiri deh!!
bertemu teman dan sanak saudara.
rasanya hampa, sepi, dan merana.
namun tugas harus di jalankan.
mencari terang di bawah kegelisahan
di pihak lain, ada letih di hati dan di kaki.
sementara pikiran kalut, ada yang memaki - -asap rokok itu... hentikan!!!- -
kata si jantung dan paru ku
ah, ku jawab saja belum ada pihak yang melarang kok
jawaban jantung ku : goblog kamu! hentikan dulu, baru cari orang yang mau melarang, lebih gampang
paru ku menambah : sudah, sudah, kau tak kan dapati orang yang bisa melarang, jika gaya hidup mu seperti tak punya jantung dan paru
tapi ini memang gayaku, orang yang bisa melarangku juga harus menerima apa yang di dapati dalam tubuh ku dan jiwa ku, tegas diriku
dalam sekejap aku bingung, bertanya, siapa diriku??
apakah itu, otak yang tak lain adalah pikiran kotor ku,
atau hati, yang kadang tak hati-hati karena tak sanggup berterima kasih ketika diberi hati
atau jantung, paru, usus, lambung, bahkan kelamin ku
mungkin juga rambut ku, yang awut-awutan seperti tak ingin diatur
atau mata ku, yang senang pada sesuatu dibalik sesuatu
atau kuping ku yang kesakitan oleh jemari ku yang menggaruknya, karena ada info kotor membuat gatal
ada kemungkinan juga, kulit yang menjadi diriku. bagian ini merasa sensitif bila bertemu dengan kulit jenis lain
dan siapa jiwaku??
sebuah sisi yang katanya tak terlihat tapi ada,
mungkinkah jiwa berselingkuh dengan diri?
atau jalan sendiri (berjalan di atas rel masing2, ini kuingat dari sebuah puisi karya diri lain)
jiwaku.. apakah kau zat yang berbeda dengan diriku?
apakah kau mendalangi diriku
atau kau memang satu seirama dengan diriku
namun aku takut bila jiwaku, kau sudah bukan jiwa yang tercipta bersamaan dengan diriku
aku curiga, kau tercampur dengan senyawa lain yang negatif
dan lalu siapa aku apakah itu =
diriku+jiwaku+senyawa negatif
nah, dimanakah akan ditemukan senyawa yang positif (kata para ahli, jika ada negatif maka pasti ada positif)
otakku berkata : senyawa positif ya otak
hatiku mengumumkan : ooo, tidak, hatilah senyawa positif itu
jadi mana yang benar?
waduuuh... tak ku temukan ke-aku-an
tiba-tiba angin di belakang berbisik ke telinga ku
"ayo kita cari orang yang bisa melarang mu berhenti merokok"
aku tadi lupa, nyebutin si tulang dan mulut beserta para warganya, ya tambahin sendiri deh!!
Wednesday, September 21, 2005
barat tak ke timur
dua minggu lagi bulan suci,
belum lagi jiwa ini menjadi bersih.
hati masih terbawa bayangan
tentang kisah tiba-tiba
yang tak lekas hilang juga
haruskah ku hapus
atau ku letakkan di depan mata
cerita tentang harapan
untuk meniupkan harmoni bersama
dua pekan lagi bulan pengampunan,
belum juga aku beranjak ke pancuran
mencari kesucian, membasuh kulit
menggosok dosa
rahmati aku menghadap ke barat Tuhan
dari tempatku
ke arah MU, ke rumah MU
meski dengan hati
belum penuh
ijinkanlah........
(sajak roman picisan dicampur soal religi....gak mukhlison banget gitu lo)
belum lagi jiwa ini menjadi bersih.
hati masih terbawa bayangan
tentang kisah tiba-tiba
yang tak lekas hilang juga
haruskah ku hapus
atau ku letakkan di depan mata
cerita tentang harapan
untuk meniupkan harmoni bersama
dua pekan lagi bulan pengampunan,
belum juga aku beranjak ke pancuran
mencari kesucian, membasuh kulit
menggosok dosa
rahmati aku menghadap ke barat Tuhan
dari tempatku
ke arah MU, ke rumah MU
meski dengan hati
belum penuh
ijinkanlah........
(sajak roman picisan dicampur soal religi....gak mukhlison banget gitu lo)
Friday, August 19, 2005
dengan sia-sia
mungkin ini langkah tak berarti
atau hanya mimpi-mimpi
di saat dasar tak terpijak
dan puncak tak tergapai
bumi menjadi persegi
terbagi senang dan duka
saat sampai di simpang arah
terusan ke ujung usia
sajak tak bagus untuk kali ini (lagi buntu nih)
atau hanya mimpi-mimpi
di saat dasar tak terpijak
dan puncak tak tergapai
bumi menjadi persegi
terbagi senang dan duka
saat sampai di simpang arah
terusan ke ujung usia
sajak tak bagus untuk kali ini (lagi buntu nih)
Tuesday, August 09, 2005
kepada siang yang panjang
hmmmm...
apa yang mesti kutulis, ketika malas sudah menyerang begini?
menunggu hari berlalu, tampaknya hanya akan membuatku menyesal.
melangkah ke depan, rasanya sebuah beban.
apa ada ya obat penyakit malas?
melanjutkan tulisan ini...., juga tak ada gunanya,
kalau begitu bakar rokok saja
ya tampaknya ide bagus..............
hssssp
wussssss......
apa yang mesti kutulis, ketika malas sudah menyerang begini?
menunggu hari berlalu, tampaknya hanya akan membuatku menyesal.
melangkah ke depan, rasanya sebuah beban.
apa ada ya obat penyakit malas?
melanjutkan tulisan ini...., juga tak ada gunanya,
kalau begitu bakar rokok saja
ya tampaknya ide bagus..............
hssssp
wussssss......
Friday, August 05, 2005
jeda kedip mata
sungguh diam tak kan jadi senyap ketika pagi mulai memaki,
membangunkan orang di dipan mimpi
masalahnya kapan aku bisa bangun pagi
kalau tidurpun mendekat timur
bahkan saat orang mulai berbagi rejeki
masih ku menunggu kuatnya niatan hati
menyeruak diantara janji untuk berhenti
huuuh... males lagi...males lagi
penyakit itu!!
membangunkan orang di dipan mimpi
masalahnya kapan aku bisa bangun pagi
kalau tidurpun mendekat timur
bahkan saat orang mulai berbagi rejeki
masih ku menunggu kuatnya niatan hati
menyeruak diantara janji untuk berhenti
huuuh... males lagi...males lagi
penyakit itu!!
Subscribe to:
Posts (Atom)