Thursday, January 03, 2013
Tahun ke empat
El, rasanya aku tak bisa merangkai kata-kata lagi
Untuk mengenang hari jadi kita tahun ini.
Tak ada sajak yang bisa mewakilkan suasana hatiku saat ini
Tak ada rangkaian kata-kata yang bisa menggambarkan
Kebahagiaanku
El, empat tahun lalu, masih kuingat perjalan kita ke timur
Di saat pagi dari jendela gerbong kita lihat telau cahaya kuning membias
dari kelebatan pepohonan hitam-hitam
Sungguh pemandangan yang ingin kujumpai setiap hari
El, masihkah kau ingat pertengkaran-pertengkaran kita
Gurauan-gurauan kita, atau mimpi-mimpi kita
Juga diskusi-diskusi kita, yang mungkin hanya beberapa menit saja
Selama empat tahun ini
Semua seperti kembali terulang bersama rasa bahagia
Semua seperti ingin kurengkuh dalam detik-detik yang sama
Semua seperti ingin kujadikan dalam satu bingkai berbunga warna
Semua menjadi satu, menetas dalam pusaran ruang
Lalu bersulih menjadi suka cita
El, pengalaman-pengalaman sudah kita jalani bersama,
Semoga kita kan bisa terus beriringan ke depan
Seperti gerbong yang kita tumpangi
Seperti pantulan emas mentari yang selalu datang tiap pagi
Maafkan bila aku tak membuat sajak indah buatmu kali ini
Aku hanya memberimu kata-kata lugas untuk menggambarkan
Rasa hatiku.
Semoga ada empat tahun kebahagiaan lagi, atau seratus tahun lagi
Namun aku tak berjanji akan selalu ada puisi-puisi indah setiap hari kita mengenang hari jadi
Karena rangkaian kata-kata ku akan seperti awan
yang mengelayut hilang ketika ditiup angin
Namun Rasaku tak akan hilang kepadamu
Seperti gunung megah yang selalu menyongsong bulan di tengah kegelapan
Seperti debur ombak yang menciumi pantai tak letih
Aku dan El empat tahun ini...
Friday, December 07, 2012
Tatkala Tas Lebih Besar Daripada Badan
Pemerintah menargetkan penerapan kurikulum baru pada tahun depan. Gonta-ganti kebijakan, meskipun niatnya baik, bisa merugikan.
Melebur pelajaran ilmu sosial dan ilmu alam jadi satu bisa membuat bingung para pengajar dan memicu opini negatif. Misalnya pendapat Nursilah, guru kelas V Sekolah Dasar Negeri Kalibata 08 Pagi, Jakarta Selatan. Menurut dia, jika dua pelajaran itu digabung, akan ada yang hilang. Terutama pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). "Sayang sekali. IPA penting untuk kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
![]() |
| foto by dunia-uniks.blogspot.com |
Penggabungan dua mata pelajaran tadi memang menjadi bagian rencana pemerintah untuk memperbarui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang berlaku saat ini. Sejumlah mata pelajaran yang ada di SD rencananya dikurangi dan jam pelajaran yang ada ditambah. Untuk kurikulum SD, misalnya, dari delapan mata pelajaran akan diubah menjadi enam saja.
Keenam mata pelajaran itu dibagi menjadi kelompok A dan B. Kelompok A terdiri dari mata pelajaran pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKN), bahasa Indonesia, serta matematika. Sedangkan muatan lokal dan pengembangan diri diintegrasikan dengan mata pelajaran kelompok B, yang terdiri dari dua mata pelajaran: seni budaya dan prakarya serta pendidikan jasmani dan kesehatan.
Jam pelajaran siswa yang mulanya 26 jam untuk kelas I, 27 jam untuk kelas II, 28 jam untuk kelas III, dan 32 jam untuk kelas IV, V, dan VI, diubah menjadi 30 jam untuk kelas I, 32 jam untuk kelas II, 34 jam untuk kelas III, dan 36 jam untuk kelas IV, V, dan VI.
Profesor Suyanto, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan bahwa penyederhanaan jumlah mata pelajaran itu untuk menjawab keluhan masyarakat atas beratnya beban pelajaran anak SD. "Masak isi tasnya lebih besar daripada badan anak," kata Suyanto saat ditemui Hayati Nupus dari Gatra, Jumat lalu.
Meski dikurangi, Suyanto berharap, anak-anak SD kelak memiliki pengetahuan yang mendalam. Karena itu, jam pelajaran pun ditambah. "Mata pelajaran sebelumnya omongannya berat dan bervariasi. Konsep kurikulum yang baru disederhanakan, tapi diperdalam," ia menjelaskan.
Sedangkan untuk SMP, hanya muatan lokal dan pengembangan diri yang akan diintegrasikan pada mata pelajaran yang ada. "Sebenarnya untuk SMP dan SMA belum dibicarakan, baru kemarin draf awal dipaparkan dan minggu depan dibahas," kata Suyanto.
Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta itu menambahkan, perubahan kurikulum ini dilakukan agar relevan dengan tuntutan zaman. Sewaktu rapat bersama presiden mengenai pendidikan, banyak muncul persoalan, seperti nasionalisme, patriotisme, dan karakter, sehingga kurikulum perlu dikembangkan lagi.
Selain itu, kurikulum baru ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah moral, seperti tawuran dan korupsi. Unsur ini akan dimasukkan melalui pendidikan agama dan PPKN dengan lebih intensif dan mendalam.
Saat ini, kurikulum baru itu sedang dibahas di internal kementerian dan dikonsultasikan kepada wakil presiden. Dalam proses perubahan kurikulum itu, menurut Suyanto, pihaknya juga melibatkan berbagai pakar, seperti Anies Baswedan, Juwono Sudarsono, Frans Magnis Suseno, dan Taufiq Abdullah. Tahun depan, kurikulum baru itu akan melalui uji publik dan diharapkan bisa efektif berlaku pada tahun ajaran baru 2013.
Suyanto membenarkan akan ada beberapa pelajaran yang digabung. Misalnya IPA dan IPS yang tidak akan lagi dipelajari murid SD. Dua pelajaran itu akan diintegrasikan pada mata pelajaran di kelompok A. Model pembelajarannya tematik, tidak dibahas menurut pohon ilmu masing-masing. "Jadi, IPA-IPS tidak dihapuskan, melainkan diintegrasikan pada empat mata pelajaran di kelompok A," Suyanto menjelaskan.
Misalnya, banjir bisa dilihat dari sisi pembelajaran agama, PPKN, bahasa Indonesia, ataupun matematika. Diharapkan siswa memiliki pemahaman yang komprehensif dan berhubungan satu sama lain, sehingga pemikirannya tidak terkotak-kotak.
![]() |
| foto by vi.sualize.us |
Ini artinya, sekolah dasar yang telah memberlakukan pelajaran bahasa Inggris bisa saja tetap memberikannya kepada murid. Dalam hal ini, bahasa Inggris tidak wajib diberikan atau bisa menjadi pelajaran tambahan.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, berpendapat positif tentang kurikulum baru ini. Namun, ia mengingatkan, sistem yang rencananya diterapkan pada 2013 itu bisa menjadi bumerang jika guru tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. "Kurikulum berganti, buku dicetak baru, tapi kalau gurunya nggak disiapkan, kan susah," katanya kepada Edmiraldo Siregar dari Gatra.
Menurut Sulistyo, seringkali pergantian kurikulum di Indonesia membutuh proses panjang untuk dipahami para pengajar. Masalahnya ada pada sistem sosialisasi yang tidak efektif dan tidak berjalan baik. "Kurikulum yang sekarang juga baru mulai dipahami, tapi sudah mau ganti lagi," ujar Sulistyo.
Sementara itu, adanya pengetatan jumlah mata pelajaran, seperti isu tidak adanya pelajaran bahasa Inggris, malah berdampak pada nasib guru. Menurut Sulistyo, saat ini kebanyakan guru bahasa Inggris di tingkat SD masih berstatus honorer. Dengan adanya wacana evaluasi kurikulum itu, telah ada pemecatan sejumlah guru bahasa Inggris di beberapa daerah. "Selalu ada yang dirugikan dari munculnya kebijakan baru," ungkapnya.
Sulistyo menyatakan, perubahan kurikulum bisa saja berefek positif seperti di sektor bisnis, tapi bisa berefek negatif bagi pendidikan itu sendiri. Para penerbit buku pelajaran akan berlomba mencetak buku sesuai dengan kurikulum baru, tapi terkadang menyesatkan. "Bisa saja yang baru hanya sampulnya, isinya tetap yang lama," katanya.
Mukhlison S. Widodo
Gatra Edisi 1 tahun 19 10 November 2012
foto
Thursday, November 15, 2012
Suling Bambu Pemersatu Maluku
Suling Bambu Pemersatu Maluku
Orkestra suling bambu di Ambon berusaha melestarikan budaya Maluku yang hampir punah. Menjunjung tinggi kedisiplinan, meski sudah tenar. Bermimpi bisa mandiri.
Konduktor Maynard Raynolds Nathanael Alfons memberikan aba-aba. Dua
tangannya menengadah di depan dada, lalu seiring dengan gerakan
tangannya, para musisi yang berada di depan panggung Aula Taman Budaya
Kota Ambon itu memainkan komposisi St. Elmo`s Fire, karya David
Foster. Nuansa romantis yang dibangkitkan tambah dalam, karena suara
utama yang keluar dari kelompok simfoni itu berasal dari suling bambu.Ya, orkestrasi yang digelar sebagai salah satu bagian acara Pesta Teluk Ambon, pada 27 September lalu itu, memang bukan layaknya orkestra modern. Karena tak menggunakan alat musik standar, seperti biola dan selo dalam membangun komposisi. Malam itu, para musisi Ambon yang tergabung dalam Molucca Bamboo Wind Orchestra ini, membentuk orkestrasi dari suling bambu khas daerah mereka.
Maka, ketika malam tambah larut, kelompok musisi ini lalu memainkan lagu Maluku, Rasa Sayange. Ratusan penonton pun menyambut dengan tepuk tangan bergemuruh. Suling bambu Maluku memang beda. Tak seperti suling bambu dari Jawa yang memiliki skala nada pentatonik, lima not per oktaf, suling Maluku mengadopsi skala diatonik, persis alat musik Barat.
Ini membuat suling bambu Maluku mudah memainkan komposisi lagu barat modern maupun klasik. Namun, menurut Rence, panggilan keseharian Maynard Raynolds Nathanael Alfons, suling bambu Maluku hampir punah. "Cuma di beberapa tempat saja masih dimainkan, itu pun sekadarnya," katanya kepada Jennar Kiansantang dari Gatra.
Padahal, dulu, suling bambu Maluku kerap dipakai masyarakat untuk mengiringi liturgi di gereja. Memang suling bambu punya sejarah panjang di sana. Berdasarkan cerita mulut ke mulut, suling bambu dikenalkan Joseph Kam, penginjil asal Belanda, yang datang ke Ambon awal abad ke-16. "Dia punya latar belakang musik flute, mungkin di sini banyak pohon bambu, jadi yang dikembangkan suling bambu," Rence menjelaskan. Tapi, kebiasaan memainkan alat musik ini kini benar-benar mulai punah.
Kenyataan itu membuat Rence mulai menyemai harapan melestarikan suling bambu Maluku sejak 2005 silam. Lulusan ilmu musikologi Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini prihatin dengan perkembangan tradisi musik Maluku yang mandek, dan sangat sedikit yang peduli.
Rence, yang suka musik klasik, pun bermimpi bisa membuat kelompok orkestra dari suling bambu. Ia mulai mengajak orang-orang di sekitarnya memainkan kembali suling bambu Maluku. Namun mimpi Rence tak mudah diwujudkan. Hanya sedikit yang tertarik.
Tetapi niat Rence sudah bulat. "Saya coba pakai pendekatan kultural ke mereka," katanya. Lelaki 45 tahun ini pun giat keluar-masuk kedai. Sambil minum kopi, Rence mengundang orang-orang bergabung dalam orkesnya. Awalnya, hanya lima orang yang berminat. "Mereka orang-orang yang sudah tua," Rence berkisah.
Dengan kondisi seadanya, kelompok kecil ini mulai berlatih. Alat musik, karena di toko tidak dijual, maka diproduksi sendiri. Bambu diolah dijadikan alat musik. Setiap nada dipastikan presisi dengan tunner. Agar seperti orkestra, jangkauan nada juga dibuat beda dalam lima kelompok suara. Register nada tinggi dipegang suara satu, nada menengah untuk suara dua dan tiga, terakhir nada rendah untuk suara empat dan lima.
Seiring latihan yang mulai kerap, anggota juga bertambah, namun tidak semua memiliki latar belakang dan pengetahuan musik yang sama. Maka, Rence harus mengajari bagaimana teknik bermusik. "Saya ajari satu-satu bagaimana cara menempelkan bibir ke suling, bagaimana cara meniup," ujar Rence, Anggota orkestra juga ternyata kesulitan membaca not balok. Maka dengan sabar, Rence menuliskan notasi angka di setiap lembar halaman not lagu.
Batu loncatan pun datang pada September 2005, ketika pejabat Wali Kota Ambon saat itu, menantang Rence dan komunitasnya tampil di perayaan hari jadi Kota Ambon ke-430. Penampilan perdana di depan publik itu ternyata mendapat sambutan positif. Kelompok yang baru beranggotakan 40 orang saat itu pun resmi bernama Molucca Bamboo Wind Orchestra.
Komunitas suling bambu Maluku ini juga semakin populer. Sejak 2007, mereka menjadi pengisi tetap pada setiap perayaan ulang tahun Kota Ambon. Pemerintah Kota Ambon juga menyediakan Gedung Taman Budaya sebagai tempat mereka berlatih. Dari situ, simpati dan keinginan bergabung dari masyrakat juga bertambah.
Saking banyaknya, Rence sampai tidak bisa lagi menerima anggota baru. "Masih ada 30-an orang yang mengantre untuk gabung," katanya. "Dulu saya yang mengajak orang ikut, sekarang mereka yang datang," Rence mengenang. Kini anggota Molucca Bamboo Wind Orchestra berjumlah 152 orang, 100 peniup suling, empat band, 10 perkusi, dan 38 paduan suara. Rence dibantu beberapa orang di manajemen untuk mengelola tim besar itu.
Anggota orkestra ini juga berasal dari berbagai latar belakang. Seperti dosen, mahasiswa, pegawai negeri sipil, penyadap nipar (gula aren), hingga tukang ojek. Mereka diterima tanpa memandang latar belakang agama. Rentang usianya pun bervariasi, paling tua 70 tahun dan termuda 11 tahun. Misi Rence menyatukan Ambon bangkit dari luka lama konflik 1998 pun terwujud.
Kehadiran generasi muda dalam kelompok juga membuat Rence bangga. Itu artinya suling bambu tidak akan mati. Di sisi lain, banyaknya personel juga membuat Rence leluasa berimprovisasi. Sebagai sutradara orkestra, ia mulai memadukan alat-alat musik tradisional di Maluku yang semakin terlupakan seperti totobuang (gong kecil) dan tifa.
Molucca Bamboo Wind Orchestra juga sempat diundang ke Istana Negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang mereka dalam peringatan kemerdekaan 17 Agustus tahun ini. Namun sukses itu bukan berarti tujuan sudah tercapai. Kesungguhan bermusik tetap dipertahankan, apalagi di sana banyak generasi muda yang perlu dididik.
Maka, latihan tiap malam pukul delapan itu tidak ada toleransi bagi yang terlambat. Bagi Rence, kedisiplinan penting dalam bermusik. "Musik juga punya sisi untuk membangun karakter, kan orang nggak bisa main sembarang, harus mengikuti ritme," ia menegaskan.
Kini, meski mengaku masih mengalami kesulitan dana untuk bisa melakukan pergelaran akibat bantuan dari pemerintah daerah minim, Rence tetap ingin mandiri. Seperti melakukan urunan sesama musisi agar bisa mengadakan pertunjukan dari honor yang disisihkan. Rence masih bermimpi orkestra suling bambu jadi daya tarik wisata budaya. Maka, ketika orkestra malam itu berlanjut memainkan lagu perjuangan, Halo-Halo Bandung, Rence tetap optimis, cita-citanya bisa terebut suatu hari. Ya, seperti semangat lagu yang dimainkan, "Mari bung rebut kembali!"
Mukhlison S. Widodo
Foto-foto : Gatra /dokumentasi Molucca Bamboo Wind Orchestra
Astakona. Gatra Edisi 52 tahun 18 Tanggal 3 November 2012
Friday, November 09, 2012
Beli Duit Pakai Duit
Beli Duit Pakai Duit
Praktek sunat
anggaran dan upeti untuk DPR sudah jadi kebiasaan di semua organisasi
pemerintahan pusat hingga daerah. Akibat kewenangan DPR yang terlalu
besar dalam mendistribusikan anggaran.
Bak dikejar
penagih hutang, bupati salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT)
ini harus main kucing-kucingan. Telepon genggam sering ia matikan.
Bahkan demi keamanan, nomor telepon pun diganti. Ada beberapa orang yang
sedang mencarinya. Tiap dua hari, mereka menghubungi sang bupati lewat
telepon.
Karena tak
bisa mengontak lewat telepon pribadi pak bupati, sebut saja namanya
Frans, itu para penagih ini pun kemudian menghubungi lewat nomor kantor.
“Namun staf yang menerima selalu menjawab 'Pak Bupati keluar' sesuai
arahan saya,” kata Frans.
Frans tidak
sedang dikejar-kejar debt collector, tapi sedang dicari seorang oknum
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pejabat dari dua kementerian
di Jakarta. Menurut Frans, mereka ini sedang minta tambahan jatah fee
dan tali kasih atas jasa mereka memperjuangkan alokasi dana proyek
untuk kabupatennya. Padahal Frans sebelumnya sudah memberikan uang
sesuai dengan perjanjian di awal.
Aktivitas
Frans sebagai seorang kepala daerah pun terganggu. Dia menyesali, kenapa
harus ikut-ikutan main api dengan para pejabat dari pusat itu. Padahal,
awalnya, dia tidak tahu kalau ada jalur mudah mendapatkan dana
pembangunan. “Prosedur” ini ia peroleh dari dua temannya, bupati asal
Sulawesi dan Bali.
Tahun lalu,
Frans bertemu keduanya dalam sebuah rapat kerja di Jakarta. Mereka
menginformasikan seluk beluk mendapatkan alokasi dana proyek. “Merekalah
yang memberikan nomor saya kepada oknum anggota DPR dan pejabat
kementerian itu. Setelah saya kembali ke NTT mereka langsung telepon
saya, menawarkan paket konspirasi ini. Saya setuju dan ke Jakarta ,”
kata Frans.
Sesuai
permintaan, Frans mengajak Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(Bappeda), Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU), dan tiga rekanan
pengusaha ke Jakarta, sekitar Januari lalu. Mereka menginap di Hotel
Aston kawasan Senen, Jakarta Pusat, dengan nama orang lain yang sudah
diatur para kolega baru tersebut.
Setelah
bertemu di hotel, terjadi kesepakatan, bahwa akan ada alokasi dana
proyek hingga miliaran rupiah terkait proyek Percepatan Pembangunan
Infrasutruktur Daerah (DPPID), dan proyek pembangunan gedung olah raga.
Saat itu juga disepakati pemberian tali kasih Rp 500 juta, dan fee 5%
dari pagu angaran proyek tersebut. Dana tali kasih harus diserahkan di
awal, dan itu ditalangi tiga rekanan yang dibawa dari NTT. Tentu dengan
janji, mereka akan diberi paket proyek tersebut.
Nah, untuk
penyerahannya, orang pusat ini pun memberi instruksi khusus. Dimana
keesokan harinya, Kepala Bappeda dan Kadis PU tadi diminta datang ke
Plaza Senayan, untuk membeli dua buah kaus. Kemudian kaus yang sudah ada
di dalam kantong plastik dan diisi duit Rp 500 juta itu di bawa ke
kamar mandi. Di sana sudah ada utusan yang menerima paket istimewa itu.
Dan memang
cespleng. Setelah kembali ke NTT, alokasi dana yang sebelumnya
dibicarakan benar-benar diperoleh sesuai komitmen. “Kami berhasil
mendapatkan alokasi dana proyek belasan miliar dan saat ini proyeknya
sedang dikerjakan,” kata Frans. Ia menolak menyebutkan besaran bantuan
itu secara detail, agar tetap tersamar.
Maka tinggalah
memberi fee kepada sang anggota dewan dan pejabat dua kementerian itu.
Bupati Frans pun mengutus stafnya ke Surabaya bertemu kolega dari
Jakarta, untuk menyerahkan fee 5% tadi. “Penyerahan itu terlaksana di
Delta Plaza. Tata caranya seperti yang diberikan di Jakarta,” kata
Frans.
Namun, meski sudah diberi jatah, ternyata anggota DPR dan pejabat kementerian ini masih belum puas. Mereka meminta tambahan fee
dengan dalih untuk keperluan menteri. “Awalnya saya layani, menambah
dana Rp 200 juta untuk dua paket proyek dari dua kementrian tersebut.
Uang itu diantar staf saya ke Jakarta,” katanya.
Hanya saja,
setelah penyerahan dana tambahan fee itu, oknum anggota DPR dan pejabat
dua kementerian itu masih tetap minta tambahan, dan lagi-lagi dengan
alasan untuk keperluan menteri. “Rekanan saya angkat tangan dan terpaksa
menolak. Saya juga terpaksa menggantiSimcard,” kata Frans.
Meski harus
main kucing-kucingan, nasib Frans masih lebih baik dibanding koleganya
sesama bupati di NTT. Sebut saja namanya Mario. Dia sudah menyerahkan
dana tali kasih sebesar Rp 500 juta, plus tambahannya Rp 200 Juta. Oknum
DPR menjanjikan Februari 2012 sudah ada pagu dana dari dua kementerian.
Namun harapan
itu lenyap, karena dana yang dijanjikan tidak kunjung datang. Alasan
yang diberikan, karena modus seperti ini sudah terdeteksi dan masyarakat
sudah mulai menyoroti. “Kami terpaksa gigit jari. Sebagai pelipur lara
mereka menjanjikan untuk tahun anggaran 2013 yang akan datang. Tapi saya
pesimis karena mereka sudah dipindahkan dan ada yang terangkut kasus
hukum,” kata Mario.
Yang membuat
Bupati Mario tambah pusing, ia harus “berhutang budi” kepada dua rekanan
yang telah menyediakan dana tali kasih sebesar Rp 700 juta itu, namun
gagal mendapatkan proyek. “Aku terpaksa beri mereka paket penunjukan
langsung sebesar Rp 120 juta, hanya sekedar untuk mengurangi kerugian
yang telah mereka berikan,” katanya.
Pajak “preman”
oknum DPR bukan hanya terjadi di wilayah Indonesia Timur, yang mulai
ramai dengan proyek pembangunan. Melainkan juga ada di daerah yang adem
ayem seperti di Jawa Tengah. Seorang pejabat di pemerintahan provinsi
ini menggambarkan praktek bancakan anggaran itu sebagai, “Tenang-tenang
tapi menghanyutkan.”
Menurutnya,
praktek kongkalikong orang DPR dan pemerintah daerah sudah menjadi
tradisi. Ini dilakukan oknum DPR di daerah yang menjadi daerah
pemilihannya (dapil). Biasanya sang oknum beralasan, upeti yang ditarik
dari dana pusat itu untuk memelihara konsituennya di daerah.
Praktek
lancung ini bisa subur karena juga melibatkan hampir semua pihak di
tingkat daerah. Mulai eksekutif, anggota dewan di daerah, hingga peserta
tender. Gaya bermain yang dipakai di daerah adalah bagi merata, semua
dikasih kue, semua menikmati. "Kodenya: hujan atau gerimis harus
merata,” papar sumber tersebut.
Proses
konspirasi ini bisa berlangsung dua arah. Oknum DPR bisa datang ke
daerah, juga sebaliknya orang daerah yang ke ibukota. Bila dimulai oknum
DPR, mereka menawarkan kepala daerah kucuran dana atau proyek. Kalaupun
menampik, biasanya kepala daerah tak langsung menolak. Ia bilang dulu,
“Ya, ya, ya,” kemudian komunikasi tak berlanjut.
Jika ditolak,
oknum DPR tidak lantas menguber-uber kepala daerah. Namun jika upaya
pertama sudah ada lampu hijau, selanjutnya terserah kedua belah pihak.
Biasanya tinggal kirim utusan dan berkomunikasi lewat ponsel. Caranya
lebih canggih, lebih halus. "Komunikasi cuma lewat kata-kata atau pesan
singkat: 'lagi?' 'dimaksimalkan saja', 'bisa nambah ga?'. Ini juga
terjadi di lain proyek atau tahun selanjutnya. Prakteknya, 'tahu sama
tahu',” katanya.
Sumber tadi
menyodorkan contoh baru bancakan anggaran di tahun 2012. Yaitu program
revitalisasi pasar tradisional. Padahal, sebenarmya pasar tradisional
hanya perlu perbaikan manajemen, tata kelola hingga kebersihan. Namun
ujung-ujungnya yang ditawarkan selalu pembangunan fisik. Pasar harus
dibongkar dan dibangun yang baru. Setelah dibangun, pasar yang dalam
perencanaan bisa tahan 8 tahun hingga 10 tahun itu, dalam satu tahun
sudah kembali kumuh.
Sebagai
gambaran, dana peremajaan pasar secara nasional sekitar Rp 400 milyar.
Di setiap titik pasar di tingkat kecamatan mendapat jatah proyek Rp 50
juta hingga Rp 70 juta. Mafia anggaran dari DPR pusat bisa memperoleh
6%. Dan besaran sunatan secara proporsional menurun sesuai tingkatan
penarik upetinya. “Fenomena ini lintas partai, kelompok kepentingan yang
disebut mafia anggaran, ” kata sumber itu.
Masalah upeti
bagi anggota dewan ini juga sudah jamak terjadi di instansi pemerintahan
pusat. Seorang mantan pejabat di sebuah kementerian menyebutkan, hampir
dalam setiap penurunan anggaran, ada dana khusus yang disisihkan buat
anggota dewan.
“Program-program
yang sifatnya block grant, mereka minta jatah 10% - 20% alokasi untuk
dibagi ke kabupaten kota dapil masing-masing anggota. Untuk program
pengadaan sarana dan prasarana fisik, mereka bawa rekanan untuk
dimenangkan dalam tender,” kata sumber itu. Bila tak dipenuhi
permintaannya, biasanya para anggota dewan ini ini mengamuk. “Sudah
pasti anggaran tahun berikutnya disunat,” tambahnya.
Tak hanya itu,
setiap pertemuan dengan komisi terkait di dewan, juga perlu disiapkan
dana oleh sebuah kementerian. Ongkos rapat kerja dan rapat dengar
pendapat dengan dewan ini dikumpulkan di sekretariat jenderal
kementerian tersebut lalu diserahkan sekretariat komisi DPR.
Dana tersebut
salah satunya untuk uang lelah bagi anggota komisi DPR, mencapai Rp 20
juta per orang. Dan bisa membengkak untuk biaya akomodasi dan konsumsi,
kalau misalnya kegiatan dilakukan di sebuah hotel di luar kota. “Dana
ini biasanya ditanggung renteng oleh unit-unit utama di kementerian
tersebut,” katanya.
Masih menurut
sumber tersebut, DPR sebenarnya punya anggaran untuk biaya rapat-rapat.
“Tapi, ya begitulah, kalau sudah merasa mereka punya kuasa, menjadikan
kita ada di bawah, dan mesti bayar upeti. Kita di tingkat pelaksana ya
ikut saja. Diminta iuran sekian-sekian bayar saja. Intinya, beli duit
pakai duit,” paparnya.
Penyakit sunat
menyunat anggaran dan permintaan upeti ini menurut Abdullah Dahlan,
Koordinator Bidang Politik Indonesian Corruption Watch (ICW), akibat
kewenangan DPR yang sangat besar dalam mendistribusikan anggaran,
termasuk anggaran ke daerah. Pola transaksi bisa muncul karena DPR
memiliki informasi langsung atas sebuah kebijakan.
Maka informasi
ini yang sering diperdagangkan. Dimana seorang oknum DPR mencoba
mempengaruhi daerah agar mau mendapatkan besaran anggaran tertentu
melalui formula-formula tertentu. “Dari situ relasi terbangun. Kasus Wa
Ode mengonfirmasi hal ini,” kata Abdullah kepada Hayati Nupus dari
Gatra.
Kasus yang
menimpa Wa Ode Nurhayati, mantan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR
dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) adalah kasus terkait DPPID yang
sudah dibuktikan di pengadilan. Wa Ode sendiri oleh Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi (Tipikor) pada 18 Oktober lalu, divonis enam tahun
penjara karena terbukti melakukan dua perbuatan tindak pidana. Menerima
suap terkait pengalokasian DPPID, dan melakukan tindak pidana pencucian
uang atas kepemilikan uang sebesar Rp 50,5 miliar dalam rekeningnya.
Dalam tindak
pidana suap, Wa Ode dianggap menerima pemberian hadiah atau janji berupa
uang senilai Rp 6,25 miliar dari tiga pengusaha, Fahd El Fouz, Paul
Nelwan, dan Abram Noch Mambu. Suap tersebut terkait upaya Wa Ode selaku
anggota Panita Kerja Transfer Daerah Badan Anggaran DPR dalam
mengupayakan Kabupaten Aceh Besar, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan
Minahasa masuk dalam daftar daerah penerima alokasi DPPID 2011.
Contoh kasus
lain terkait kongkalingkong alokasi anggaran yang sedang dibuktikan di
pengadilan adalah kasus Angelina Sondakh. Anggota Badan Anggaran DPR ini
ditetapkan sebagai tersangka lantaran terkait jabatannya, ia diduga
menerima pemberian hadiah atau janji terkait penganggaran proyek Wisma
Atlet di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta proyek pengadaan sarana
dan prasarana pendidikan dari Kementerian Pendidikan Nasional.
Yang paling
mengejutkan adalah kasus korupsi pengadaan Al Quran yang melibatkan
Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabbar.
Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Zulkarnaen dan putranya Dendy
Prasetya sebagai tersangka dengan sangkaan menerima suap lebih dari Rp
10 miliar terkait penganggaran proyek-proyek di Kementerian Agama tahun
2010 dan 2012.
Dari beberapa
contoh kasus itu, terlihat aspek kewenangan menggolkan anggaran oleh DPR
rawan disalahgunakan. Dan ini akan selalu melibatkan pihak-pihak yang
punya kepentingan dari orang daerah hingga DPR. Oknum sebuah kementerian
juga bisa ikut terlibat.
Khusus praktek
kotor memainkan anggaran di daerah, sudah terbangun dua jalur lobi ke
pusat, yaitu jalur politis dan pemerintahan. Jalur politis dilakukan
melalui lobi dengan DPR. Sementara jalur pemerintahan dilakukan melalui
komunikasi dengan pemerintahan, baik pusat maupun daerah. “Dua jalur itu
semua dipakai,” kata Abdullah.
Yang membuat
penyakit ini tambah ganas, karena penyusunan anggaran tidak pernah
dibahas secara terbuka, hasil pembahasan pun tidak pernah disampaikan.
“Kalau pembahasannya terbuka dan hasilnya disampaikan, maka daerah akan
tahu jatahnya berapa, nggak perlu lobi lagi,” katanya. Pejabat daerah
sebetulnya bisa tahu jatahnya berapa dari data empiris potensi
daerahnya.
Bagi pejabat
daerah, seperti sumber GATRA yang sudah mengetahui praktek-praktek
kolusi ini sejak lama, aksi culas seperti ini akan sulit diberantas.
Karena tidak ada soliditas setiap pihak, terutama dari partai politik,
yang mau mengungkap dan menghentikan praktek ini. Bahkan laporan-laporan
dari pejabat publik seperti Dahlan Iskan, juga tak akan bisa
mempengaruhi praktek seperti ini.
Namun, untuk
mendeteksi adanya praktek kongkalikong mafia anggaran di daerah, menurut
sang sumber tadi, tidaklah susah. “Tinggal mencermati daerah mana yang
mendapat alokasi dana terus menerus beserta realisasinya,” ujarnya. Nah,
masyarakat kini tinggal periksa lalu laporkan.
Mukhlison S Widodo, Arif Koes Hernawan (Semarang), dan Antonius Un Taollin (Kupang)
Foto :
jppn.com
Gatra/Dharma Wijayanto
Gatra/Ardi Widiyansah
Laporan Utama majalah GATRA edisi 19/01, terbit Kamis 8 Nopember 2012
Monday, July 16, 2012
Aul's firstday at school
Hari ini hari pertama masuk sekolah bagi Aul. Memang masih masuk PAUD, semuanya repot, tp yang penting semangatnya. Bangun pagi, masak air untuk mandi, hingga siap2 pakai seragam.
Jadi, Aul tadi meski telat ke sekolah, tapi sudah sempet ikut acara hari pertama, soal perkenalan dan main2. Namun ada sedikit insiden. Ada seorang anak yang merebut bangku Aul.
Anak itu Lebih tua, namun Aul mempertahankan bangkunya, hingga si anak nangis. Masih berebut, si anak itu ringan tangan, lalu memukul, Aul pun nangis. Tapi tetap mempertahankan kursinya. Hingga ayahnya datang sekitar jam sepuluh, ia masih sesengukan, hingga dia diajak ibunya main di porotan
He he... Baru Aul bisa ketawa lagi.
Saturday, June 23, 2012
Menunggu Kantuk
Malam menghantarkan gigil di telapak kaki
Pedas pandangan masih tersisa, karena habis nonton bola
Di atap kota Bogor ini, aku menunggu kantuk
Namun ia tak datang
Mungkin sedang menari bersama rasa ingin tahu di otakku
Atau mungkin juga jadwal si kantuk belum saatnya datang
Tapi lelah sudah menempel di tangan, kaki, dan juga mata
Maka, aku harus rela menahan sengsara
Diserang hawa beku, sampai ke tulang
Selimut aku hamparkan
Oh, dimana kantuk
Puncak, Bogor 23 Juni 2012
Thursday, June 21, 2012
Pagi
pagi
sungguh, di awal hari aku sejatinya merasa merindumu
sungguh, saat mentari memerah aku selalu merasa sepi tanpamu
pagi, adalah tempat dimana romansa bertemu
di atas pahatan langit semburat merah dan biru
aku merasa sangat mencintaimu
aku cinta pagi dan kamu
hujan pagi bagiku kebahagiaan semu
mendung pagi menjadi kemuraman panjang
aku cinta pagi dengan langit bersih semburat merah dan biru
tapi kamu tak pernah ada untuk kita bersama
memandang langit bersih itu
kamu berlalu bersama malam
ketika sengatan surya sudah menyakiti kulit
kamu baru tiba entah darimana
cintaku.. kenapa kamu tak datang di pagiku?
kalibata, menjelang senja 21 06 2012
sungguh, di awal hari aku sejatinya merasa merindumu
sungguh, saat mentari memerah aku selalu merasa sepi tanpamu
pagi, adalah tempat dimana romansa bertemu
di atas pahatan langit semburat merah dan biru
aku merasa sangat mencintaimu
aku cinta pagi dan kamu
hujan pagi bagiku kebahagiaan semu
mendung pagi menjadi kemuraman panjang
aku cinta pagi dengan langit bersih semburat merah dan biru
tapi kamu tak pernah ada untuk kita bersama
memandang langit bersih itu
kamu berlalu bersama malam
ketika sengatan surya sudah menyakiti kulit
kamu baru tiba entah darimana
cintaku.. kenapa kamu tak datang di pagiku?
kalibata, menjelang senja 21 06 2012
Location:
Kalibata, Jakarta 12740, Indonesia
Monday, March 08, 2010
kehidupan
di kala ufuk memerah
dan kabut masih enggan melepas pelukannya kepada sang pohon
di atas roda baja kita menuju ke timur
dan saat itulah aku menemukan
keindahan di sampingmu
november 2008
untuk elmyku
Thursday, January 31, 2008
jam 11 malem
barusan dari liputan show my chemical romance
ditinggal di blok M sama photograper, jadi harus naik angkutan umum
lalu jalan dipinggir kuburan, sebelum sampai tujuan akhir
huuuhhh
berkeringat deh....
ditinggal di blok M sama photograper, jadi harus naik angkutan umum
lalu jalan dipinggir kuburan, sebelum sampai tujuan akhir
huuuhhh
berkeringat deh....
Tuesday, December 18, 2007
potongan rembulan
separo bulan untukmu dan sisanya untukku
kita simpan
agar di kelak masa depan
saat kita saling menghampiri
kukenali wajahmu dan kau masih ingat rupaku
untuk dwie,
dibuat 1 desember 07
kita simpan
agar di kelak masa depan
saat kita saling menghampiri
kukenali wajahmu dan kau masih ingat rupaku
untuk dwie,
dibuat 1 desember 07
Saturday, June 16, 2007
silap hati
menjadi bagian dari hati adalah harapan
tapi bila hati itu jadi berliku
adalah kehampaan
salah kaprah
dan menjadi batu keabadian
lalu apa yang tersisa....
sebuah kebencian
jakarta, 16 juni 2007
01:45 wib
tapi bila hati itu jadi berliku
adalah kehampaan
salah kaprah
dan menjadi batu keabadian
lalu apa yang tersisa....
sebuah kebencian
jakarta, 16 juni 2007
01:45 wib
Thursday, March 08, 2007
shinta
saat bertemu dirimu aku ingin menjadi Rahwana
menculikmu dari ranjang taman sari
dan kubawa terbang ke Alengka
lalu kubangun istana megah
tempat kukagumi mu setiap waktu
saat mengenalmu aku ingin menjadi Rama
melindungimu dari marabahaya
membebaskan dari godaan para raksasa
mensakralkan dalam doa-doa
karena kau adalah ibunda dari kesucian
kesetiaan dan keindahan
tapi aku tak ingin menjadi Rahwana atau pun Rama
aku hanya ingin mengenangmu dalam kesederhanaan
memberikan apa yang ku punya
menjadikan dirimu mawar mekar di sudut hati
agar selalu mengalir dalam nadi
membersihkan darah dari dosa dunia
jakarta, 8 maret 2007
menculikmu dari ranjang taman sari
dan kubawa terbang ke Alengka
lalu kubangun istana megah
tempat kukagumi mu setiap waktu
saat mengenalmu aku ingin menjadi Rama
melindungimu dari marabahaya
membebaskan dari godaan para raksasa
mensakralkan dalam doa-doa
karena kau adalah ibunda dari kesucian
kesetiaan dan keindahan
tapi aku tak ingin menjadi Rahwana atau pun Rama
aku hanya ingin mengenangmu dalam kesederhanaan
memberikan apa yang ku punya
menjadikan dirimu mawar mekar di sudut hati
agar selalu mengalir dalam nadi
membersihkan darah dari dosa dunia
jakarta, 8 maret 2007
Friday, January 12, 2007
Thursday, January 04, 2007
sejak aku di sini
aku dibelai ombak
ketika air menggenang darah
air mata penyambung hidup
aku disongsong angin
saat menuai bisikan dunia
gairah sejuta hasrat
bahkan Tuhan
keabadian telah menjadi ruang-ruang
dalam sejarah roda yang berulang
rapuh, kuyu, dan menelekung
untaian harap religi
dimana lagi kan kutemui
jakarta, 04 januari 2007
setengah 9 malam
ketika air menggenang darah
air mata penyambung hidup
aku disongsong angin
saat menuai bisikan dunia
gairah sejuta hasrat
bahkan Tuhan
keabadian telah menjadi ruang-ruang
dalam sejarah roda yang berulang
rapuh, kuyu, dan menelekung
untaian harap religi
dimana lagi kan kutemui
jakarta, 04 januari 2007
setengah 9 malam
Monday, October 30, 2006
dunia yang terbagi
Link
saat ini aku lagi di pinggir
sebuah persimpangan jalan
aku mau membelok ke kanan
tapi koq masih pengen terus
jalan terus itu tak ada lampu
sedangkan yang belok kanan ada
kakiku kaku
alamku terbagi
aku nyeri
di kepala
di jantung
di telapak tangan
tapi belum mau mati
aku...
ingin merayumu
aku...
pergi
aku...
tak tahu
hmmmmm
duniaku terbagi
solo, 30 oktober 2006
::msw::
Monday, August 28, 2006
stop press!!
aku tak mampu menulis apa yang kurasakan
ada dua rasa yang berperang
cukup sudah
aku tak mampu menuangkan
kali ini aku kosong
aku tak mau mengungkapkan kecengengan
tapi kadang aku terseret juga
sudah
sudah
berhenti.
-----kenangan 23/24 agustus 2006------
ada dua rasa yang berperang
cukup sudah
aku tak mampu menuangkan
kali ini aku kosong
aku tak mau mengungkapkan kecengengan
tapi kadang aku terseret juga
sudah
sudah
berhenti.
-----kenangan 23/24 agustus 2006------
Monday, August 07, 2006
menggantung jawaban
mengapa harus ada jawaban abu-abu atas sebuah pertanyaan
mengapa tidak dijawab YA atau TIDAK
mengapa jawaban itu hanya diam
bila kita tak suka, mengapa tidak katakan TIDAK
bila kita setuju, harusnya diisi jawaban YA
senyap hanya akan menambah persoalan
membuat keraguan dan bermacam dugaan
memantik untaian pertanyaan baru
cobalah kita belajar untuk mengatakan yang sesungguhnya
berusaha mengungkap kebenaran tanpa menyakiti perasaan
yogya, 7 Agustus 2006
ketika jarum pendek menunjuk angka 10
dan jarum panjang menunjuk angka 1
diiringi suara jangkrik
disinari kelap-kelip kunang-kunang
:: MSW ::
mengapa tidak dijawab YA atau TIDAK
mengapa jawaban itu hanya diam
bila kita tak suka, mengapa tidak katakan TIDAK
bila kita setuju, harusnya diisi jawaban YA
senyap hanya akan menambah persoalan
membuat keraguan dan bermacam dugaan
memantik untaian pertanyaan baru
cobalah kita belajar untuk mengatakan yang sesungguhnya
berusaha mengungkap kebenaran tanpa menyakiti perasaan
yogya, 7 Agustus 2006
ketika jarum pendek menunjuk angka 10
dan jarum panjang menunjuk angka 1
diiringi suara jangkrik
disinari kelap-kelip kunang-kunang
:: MSW ::
Friday, August 04, 2006
yakin itu
telah kutetapkan bahwa ini adalah arahku
bila ada yang tak setuju
jangan kau beri pikiran baru
biarkanlah
karena memang itu kan jadi bebanku
saat aku tak bertemu
apa yang ada di ujung arah itu
aku tak kan ragu, sekali lagi
tak kan ragu!
untuk menuju arahku
tanpa membuat kelok baru
yogya, 4 agustus 2006
16:04
MSW
bila ada yang tak setuju
jangan kau beri pikiran baru
biarkanlah
karena memang itu kan jadi bebanku
saat aku tak bertemu
apa yang ada di ujung arah itu
aku tak kan ragu, sekali lagi
tak kan ragu!
untuk menuju arahku
tanpa membuat kelok baru
yogya, 4 agustus 2006
16:04
MSW
Wednesday, August 02, 2006
oh alida
alida.....
aku merindumu seperti pasir pantai menunggu ombak
bila kau hembuskan derai manja di huruf-huruf pesanmu
sesaat jiwa membuncah, membiru bagai langit tanpa awan
alida....
sudilah menungguiku sejenak
untuk bertemu di kawat-kawat berpilin
yang membuat jarak seperti kertas tipis
alida....
mengapa selalu kau tinggalkan aku
saat aku ingin mengenangmu
untuk berbincang sejenak tentang langit, batu, gunung, dan ilalang
alida....
alida....
kapan lagi kita bertemu?
MSW
yogya, 2 Agustus 2006
19:42
sajak kerinduan seorang sahabat
aku merindumu seperti pasir pantai menunggu ombak
bila kau hembuskan derai manja di huruf-huruf pesanmu
sesaat jiwa membuncah, membiru bagai langit tanpa awan
alida....
sudilah menungguiku sejenak
untuk bertemu di kawat-kawat berpilin
yang membuat jarak seperti kertas tipis
alida....
mengapa selalu kau tinggalkan aku
saat aku ingin mengenangmu
untuk berbincang sejenak tentang langit, batu, gunung, dan ilalang
alida....
alida....
kapan lagi kita bertemu?
MSW
yogya, 2 Agustus 2006
19:42
sajak kerinduan seorang sahabat
Subscribe to:
Posts (Atom)




